Pages

Subscribe:

Selasa, 03 April 2012

Neighbours From Hell 1

Game ini bernama Neighbours From Hell, game ini menceritakan tetangga yang sangat usil kepada tetangganya. mula-mula kita akan masuk kerumah tetangga tersebut lalu kita mengerjakan keusilan seperti, mencoret-coret foto, mengambil-ambil barang lalu digunakan untuk mengusili tetangganya and many more...
Ini dia beberapa previewnya :


 
langsung saja tanpa basa basi lagi donwload aja biar gak penasaran

Passwordnya : www.mixbloger-isma.blogspot.com
 
Note  : Jangan ditiru di rumah yaaa or don't try this at home hahaha

Angry Birds Space (Full Version)

Kalian yang suka main angry birds, sekarang angry birds ada keluaran yang baru namanya Angry Birds Space.

Ini adalah beberapa previewnya :

 

 











 
























Biar gak penasaran, langsung saja download dan mainkan 

Download it now







Minggu, 01 April 2012

Sepak Bola Butuh Teknologi Garis Gawang?




Pertandingan di San Siro pada hari Minggu (26/2) dini hari memasuki menit ke-25. Gelandang AC Milan, Sulley Muntari, mengakhiri kemelut di depan gawang Juventus dengan sundulan. Kiper Gianluigi Buffon dalam sepersekian detik menghalau bola dari sekitar gawangnya.

Menurut Muntari dan beberapa pemain Milan, bola sudah melewati garis gawang sebelum dimentahkan Buffon. Mereka juga sudah bersorak gembira. Namun apa daya, wasit Paolo Tagliavento bergeming. Dia tak menganggap ada gol karena hakim garis tidak memberi sinyal.

Dalam tayangan ulang televisi, klaim Muntari dan kawan-kawannya ternyata benar. Bola sudah melewati garis gawang Juventus sekitar satu meter sebelum dimentahkan Buffon.

Kontroversi terjadi. Bukan satu-satunya, karena di waktu selanjutnya pun terjadi kontroversi kedua kala gol (pertama) Allesandro Matri untuk Juventus dianulir Tagliavento.

Tetapi sorotan utama tetap kontroversi gol Muntari. Isu laten dalam beberapa tahun terakhir tentang penggunaan teknologi di garis gawang kembali menyeruak. Pro dan kontra kembali terjadi. Namun, benarkah sudah waktunya bagi sepak bola menggunakan teknologi garis gawang alias goal-line technology?

FIFA sejauh ini tak pernah bersikap tegas. Sang bos, Sepp Blatter, dalam banyak kesempatan lebih senang berada di wilayah abu-abu. Yang terbaru, Blatter mengaku akan mempertimbangkan penggunaan teknologi garis gawang walaupun kata final ada di pundak International Football Association Board (IFAB) — yang bertugas memberi rekomendasi perubahan hukum dan aturan sepak bola kepada FIFA.

Beberapa pelatih tenar seperti Arsene Wenger, Sir Alex Ferguson, Jose Mourinho, atau Carlo Ancelotti tak sepakat menggunakan teknologi itu. Presiden UEFA, Michel Platini, pun setali tiga uang. Legenda sepakbola Prancis itu mengatakan teknologi itu ide buruk.

Menggunakan teknologi di garis gawang untuk sepakbola akan menjadi preseden buruk. Ia bisa merembet ke hal lain, misalnya untuk menentukan offside — yang sering terjadi di sebuah pertandingan.

Penggunaan teknologi membuat wasit harus menghentikan pertandingan sejenak untuk memperhatikan tayangan ulang dan mengambil keputusan. Bila kejadian di area abu-abu dalam sebuah pertandingan sedemikian banyak, bisa dibayangkan berapa lama waktu harus terbuang. 

Satu pertandingan bisa berjalan lebih dari 100 menit. Bagaimana dengan kondisi fisik dan stamina pemain?

Bagaimana bila bola yang diberi sentuhan teknologi? Adidas sudah pernah menanamkan microchip ke dalam bola, dan hasilnya tidak memuaskan.

Beberapa kiper papan atas seperti Iker Casillas, Petr Cech dan nama lainnya mengaku tak senang dengan bola bermuatan chip. Aerodinamika bola sulit ditebak. Para pemain sekelas Cristiano Ronaldo pun menolak karena bola jadi sulit dikontrol. Sedangkan Adidas sendiri tak tertarik memproduksinya karena satu hal: tidak ekonomis alias mahal!

Sepak bola secara prinsip memang berbeda dengan cabang olahraga lain yang akrab dengan penggunaan teknologi. NFL (American Football), NHL (Liga Hockey Amerika), MLB (Liga Baseball Amerika), dan tenis adalah sebagian yang jamak menggunakannya. Tetapi jangan dilupakan bahwa olahraga tadi tidak dibatasi oleh waktu. Bila sepakbola hanya berlangsung kurang lebih 90 menit dalam level reguler maka olahraga lain tidak demikian.

Sepak bola tidak antiteknologi. Ia memang selalu terlambat dibandingkan olahraga lain dalam hal teknologi. Namun dalam satu dekade terakhir, penerapan teknologi di sepak bola diarahkan ke bagian lain. Misalnya dalam hal kepelatihan, fisioterapi, aplikasi statistik, dan sebagainya.

Sebagian orang mengatakan kontroversi dalam suatu pertandingan sepak bola adalah lumrah. Namanya juga manusia. Masalahnya, kontroversi tidak terjadi dengan sering. Mungkin dalam 10 pertandingan hanya ada 2 yang kontroversial. Lagi pula, bukankah itu yang membuat sepak bola menjadi lebih berwarna?

Menggunakan teknologi di garis gawang akan membuat sepak bola menjadi sempurna. Dan akibatnya, sentuhan manusia bisa tereliminasi. Tak ada lagi keputusan yang bisa didebat, tak rasional dan lainnya yang berbasis kompetensi manusia.  

Sepak bola menjadi permainan yang mudah ditebak, semangat bisa memudar. Apakah para penikmat menginginkan hal itu?

Sabtu, 31 Maret 2012

5 Fakta Menarik Laga AC Milan vs Barcelona

5 Fakta Menarik Laga AC Milan vs Barcelona







Juara Serie A Liga Italia, AC Milan, akan menjamu juara La Liga sekaligus juara bertahan Liga Champions Eropa, Barcelona, di leg pertama babak 8 besar Liga Champions Eropa, Kamis (29/3/2012) dinihari Wib.
Pertemuan kedua tim yang menjadi unggulan ini dinilai sejumlah kalangan terlalu dini, karena keduanya termasuk unggulan di Liga Champions musim ini. Nah, di balik laga seru yang akan tersaji dinihari nanti, ada 5 fakta menarik yang mungkin bisa menjadi bumbu penyedap bagi duel kedua tim tersebut:

    1. AC Milan belum pernah mengalami kekalahan di kandang pada babak perempat final kejuaraan Eropa, 10 kali menang dan 4 kali seri
    2. Pemain AC Milan, Zlatan Ibrahimovic, Maxi Lopez, dan Gianluca Zambrotta pernah memperkuat Barcelona
    3. Barcelona pernah mengalahkan AC Milan 3-2 di San Siro pada babak penyisihan grup Liga Champions musim ini
    4. Pada babak penyisihan grup, Barcelona memuncaki grup dengan nilai 16 sedangkan AC Milan menjadi runner-up dengan nilai 9
    5. Barcelona telah memenangi 9 pertandingan di semua kompetisi sejak terakhir kali mengalami kekalahan 3-2 dari Osasuna di awal Februari

Jumat, 20 Januari 2012

Sepuluh Pelatih Sepakbola Dengan Gaji Tertinggi Di Dunia

Di bawah ini, ada sepuluh pelatih sepakbola yang penghasilannya terbilang wah dan luar biasa.

Melanjutkan kabar yang diterima Byan Blog secara eksklusif sebelumnya, di mana Sir Alex Ferguson akan mendapat kontrak baru dari Manchester United, kami mengumpulkan siapa-siapa saja pelatih yang memiliki pendapatan terbesar di sepakbola.

Biasanya pemain yang meminta gaji besar, padahal di belakang mereka ada pelatih-pelatih yang cerdik yang juga layak mendapatkan gaji tak kalah besar.

Lima 'Kenakalan' Pepe Di Atas Lapangan

Bek Real Madrid ini kembali merusak reputasinya dengan menginjak tangan Lionel Messi dalam laga Copa del Rey. Byan Blog pun kini mengulas ulah bek Brasil itu sebelumnya. 

Pepe - Real Madrid 

Wayne Rooney memanggilnya 'idiot', Bernd Schuster merasa kepribadiannya berubah saat mengenakan kostum Real Madrid. Namun semua sepakat, Pepe bermasalah.

Bek kelahiran Brasil ini lagi-lagi menjadi pusat perhatian pada pertengahan pekan dengan cara yang salah, mengalihkan perhatian dari pertandingan yang menarik.

Clasico kelima berlangsung di Santiago Bernabeu, dengan hasil akhir 2-1 memihak tim tuan rumah di laga pertama perempat-final Copa del Rey.

Pepe, sama seperti musim lalu lawan Barca, dipasang sebagai perusak permainan di lini tengah, dan bek Portugal itu benar-benar menghayati perannya dengan mengasari Sergio Busquets di awal pertandingan yang membuatnya diganjar kartu kuning, sebelum menginjak Lionel Messi yang luput dari pengamatan wasit.

Jika wasit melihat insiden tersebut, kartu merah pasti akan keluar bagi Pepe. Pelatih Real Madrid pun berusaha mengamankan pemainnya dengan menarik keluar Pepe menjelang akhir pertandingan.

Sebagian besar pemain Barcelona tak mau larut dalam insiden ini, tetapi Xavi menganggap ini memalukan, sementara pelatih Pep Guardiola dan Andres Iniesta membiarkan tayangan ulang dan foto-foto berbicara.

Dan ini bukan pertama kali Pepe khilaf. Karier Pepe banyak dihiasi kontroversi, dan Byan Blog berusaha melihat kontroversi terbesar yang dibuat Pepe.

1. TENDANGAN TERHADAP PEMAIN GETAFE JAVIER CASQUERO (APRIL 2009)
Pepe sendiri sepertinya akan sulit mengulang tingkahnya atas Javier Casquero. Bek Madrid itu memberikan penalti bagi lawannya menjelang akhir partai liga di Bernabeu setelah mendorong Casquero dari belakang. Belum cukup, Pepe menunjukkan rasa frustrasinya dengan menendang bagian belakang kaki Casquero dan kemudian punggungnya, untuk kemudian dihukum sepuluh pertandingan. Pepe pun belum belajar dari kejadian brutal ini.

 

2. KENAKALAN DI SERIAL CLASICO (APRIL 2011)
Banyak kejadian yang bisa diambil di tiga pertandingan lawan Barcelona di mana Pepe tampil menjelang akhir musim. Ada tekel keras atas Dani Alves, yang membuat Pepe dihukum kartu merah dan tak tampil di leg kedua semi-final, selain menendang wajah Messi, menampar Andres Iniesta, dan membuat gerakan tak pantas ke arah fans Barca setelah Madrid menjuarai Copa del Rey.
3. MENYERANG PEMAIN LEVANTE XAVI TORRES (SEPTEMBER 2011)
Frustrasi berkecamuk dalam partai tandang Real Madrid ke Levante, saat klub ibukota Spanyol itu tertinggal dari tim asal Valencia. Pepe lagi-lagi menjadi pemain yang emosinya tak terkontrol, setelah mendorong Xavi Torres, menendangnya, dan kemudian menginjaknya juga. Wasit kembali gagal melihat insiden ini. Torres kaget, "Saya tak percaya apa yang terjadi saat itu."
4. MENYIKUT MUKA PENYERANG SEVILLA ALVARO NEGREDO (DESEMBER 2011)
Ini salah satu kenakalan Pepe yang kurang populer, tetapi tetap mencengangkan. Bek Portugal itu mengawal Negredo saat bertandang ke Sevilla, dan memutuskan untuk menyikut mukanya saat berebut bola di sudut lapangan. Namun, berbeda dengan Rabu kemarin, wasit melihat kejadian ini dan mengusir Pepe keluar dengan kartu merah. Madrid untungnya tetap menang 6-2.
5. MENGINJAK TANGAN MESSI (JANUARI 2012)
Kontroversi ini terlalu hangat untuk dilewatkan. Setelah dua kali gagal merebut bola dari penyerang Argentina itu, Pepe akhirnya berhasil mendekati Messi setelah Jose Callejon melakukan pelanggaran. Pepe pun menggunakan kesempatan ini untuk bersinggungan dengan Messi yang terjatuh dan menginjak tangannya, tepat di depan mata wasit. Di pertandingan ini, Pepe juga berpura-pura kesakitan di mukanya, saat berebut bola dengan Cesc Fabregas.

Sepuluh Laga Terbaik Arsenal Kontra Manchester United Di Abad 21

Jelang pertempuran Ahad esok di Emirates, mari kita simak kembali sepuluh duel terbaik antara kedua tim sejak memasuki abad 21.

Minggu (22/1) tergolong hari krusial dalam perburuan titel Premier League 2011/12. Sepasang laga vital akan digelar, salah satunya sudah tak asing lagi dalam rivalitas papan atas: Arsenal kontra Manchester United.

Ya, sepanjang akhir abad 20 dua klub tersebut kerap bertempur memperebutkan silverware, dengan The Gunners menyeruak sebagai penantang utama Red Devils besutan Sir Alex Ferguson semenjak kedatangan Arsene Wenger.

Beberapa laga epik antara kedua kubu tersaji pada tahun-tahun awal kekuasaan Wenger di London Utara sebelum rivalitas menjadi semakin sengit usai pergantian milenium.

Kendati level kepentingannya sedikit menurun dalam beberapa tahun terakhir lantaran Arsenal susah meraih trofi, duel ini tetap salah satu yang paling diantisipasi di EPL dan, tak seperti banyak bigmatch lainnya, jarang gagal memenuhi ekspektasi.

Jelang pertempuran Ahad esok di Emirates, Byan Blog mengajak Anda menengok kembali sepuluh laga terbaik Arsenal versus United sejak memasuki abad 21.


25 November 2001: Arsenal 3-1 Manchester United


Salah satu titik terendah dalam karier Fabien Barthez bersama Man. United. Hingga kini pun kiper eksentrik Prancis itu mungkin belum dapat melupakan penampilan horornya di Highbury pada tahun 2001 ini.

Kala itu kedua tim tengah bersaing dalam balapan menuju titel dan laga ini termasuk penting meski masih di separuh awal musim. Sampai sepuluh menit terakhir, kedudukan imbang 1-1 setelah gol Fredrik Ljungberg melenyapkan keunggulan United lewat Paul Scholes.

Kemudian, sama sekali tak berada dalam tekanan, Barthez secara ceroboh melakukan sapuan yang justru mengarah ke Thierry Henry sehingga memudahkan kompatriotnya itu mencetak gol.

Serangan pun lantas digencarkan United demi mencari gol balasan. Namun, satu umpan jauh dari sisi The Gunners yang terlihat bakal gampang ditangkap justru lolos dari sergapan Barthez, dan Henry sekali lagi memaksimalkan blunder sang kiper tanpa kesulitan berarti.

Ekspresi kefrustrasian tak bisa disembunyikan Barthez, dan rekan-rekan setimnya pun seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Kemenangan comeback yang vital bagi Arsenal.
8 Mei 2002: Manchester United 0-1 Arsenal


Masih di musim yang sama, kedua klub kembali bertemu jelang kompetisi berakhir, kali ini di Old Trafford, dengan Arsenal amat difavoritkan menyabet gelar yang musim sebelumnya menjadi milik United.

The Red Devils sendiri berhasrat mempertahankan keyakinan terhadap kans juara yang amat tipis, walau secara realistisnya hanya ingin mencegah sang rival terberat memastikan predikat kampiun di halaman rumah mereka.

Tetapi, menghadapi The Gunners yang sedang in-form, mengemas 11 kemenangan berurutan sebelum laga ini, United tak berdaya dan akhirnya menyerah 1-0 melalui gol Sylvain Wiltord.

Arsenal resmi meraih titel dan selebrasi mereka di Old Trafford merupakan malam tak terlupakan bagi para Gooners, sebaliknya membuat muak Mancunians, yang harus melihat tim kesayangan mereka finis ketiga di klasemen akhir serta nirgelar pada musim tersebut. Salah satu musim terburuk United di era Premier League.

16 April 2003: Arsenal 2-2 Manchester United


Dengan liga tinggal menyisakan beberapa laga saja, Arsenal dan United sekali lagi bentrok dalam pertandingan yang dilabeli title-decider.

Sempat unggul delapan poin di puncak klasemen pada Maret, tepat sebelum gim ini digelar Arsenal justru berbalik tertinggal tiga angka. Meski begitu, karena punya simpanan satu laga dan selisih gol lebih bagus, saat itu mereka tetap sedikit lebih difavoritkan menjadi juara.

Duel klasik pun tergelar. Ruud van Nistelrooy mengantar United memimpin cepat dengan gol solo ciamiknya sebelum tuan rumah membalikkan kedudukan berkat sepasang gol Henry.

Hanya berselang semenit dari gol kedua Henry, tandukan Ryan Giggs menyamakan skor. Kartu merah kemudian muncul bagi Sol Campbell karena menyikut Ole Gunnar Solskjaer. Pertandingan berlangsung kian seru dan panas sampai akhir, namun skor 2-2 awet terjaga.

Selebrasi Ferguson dengan fans United selepas peluit panjang terdengar mengindikasikan keyakinannya bahwa satu poin dari laga ini cukup dalam perebutan gelar, dan ia benar. Hasil imbang Arsenal melawan Bolton di pekan berikut disusul kekalahan 3-2 dari Leeds United menghadirkan keuntungan bagi United, dan mereka tak menyia-nyiakannya sampai akhir.

21 September 2003: Manchester United 0-0 Arsenal


Mungkin tampak aneh laga dengan skor kacamata bisa nongol dalam daftar ini sementara yang berakhir dengan 6-1 dan 4-0 agak ditepikan, tapi duel pada 2003/04 ini nyaris mengubah sejarah Liga Primer.

Perjumpaan pada fase awal musim yang mentas di Old Trafford ini berjalan keras dan diwarnai pengusiran Patrick Vieira karena berusaha menendang Ruud van Nistelrooy. Laga masih tanpa gol hingga Martin Keown menjatuhkan Diego Forlan dalam kotak terlarang di masa injury time. Penalti bagi United!

Catatan tak terkalahkan Arsenal sejak awal musim tampak bakal kandas, apalagi yang maju sebagai algojo adalah Van Nistelrooy yang terkenal piawai mengeksekusi penalti. Namun apa yang terjadi? Sepakan bomber Belanda itu membentur mistar!

Keown yang tampak murka kepada RvN -- mungkin karena insiden dengan Vieira -- sekaligus merayakan kegagalan penalti kemudian mengintimidasi sang striker. Para pemain kedua tim pun akhirnya terlibat kisruh di lapangan seusai laga.

Andai eksekusi Van Nistelrooy masuk, tentu tak akan ada The Invincibles Arsenal dalam sejarah. Pertemuan kedua klub sendiri tetap berjalan keras dan bertensi tinggi selama beberapa tahun berikut.
24 Oktober 2004: Manchester United 2-0 Arsenal


Nyaris setahun kemudian, Arsenal kembali ke Old Trafford dengan rekor tak terkalahkan yang masih terjaga, mencapai 49 laga, dan angka 50 pun sudah membayang di pelupuk mata.

Hingga 20 menit tersisa, skor masih kacamata sampai akhirnya Wayne Rooney, berstatus rekrutan baru, tampak melakukan simulasi saat ditekel Campbell. Wasit Mike Riley secara kontroversial menunjuk titik putih. Van Nistelrooy sukses mengonversi penalti sekaligus menebus kesalahan musim sebelumnya.

Merasa bebannya terangkat, Ruutje merayakan golnya dengan sangat emosional di depan Stretford End. Rooney kemudian memastikan kemenangan dengan torehannya di menit-menit akhir menyusul sebuah situasi serangan balik.

Kendati tak terima dengan kekalahan dan melancarkan protes keras, rekor The Invincibles akhirnya terhenti, dan itu sekaligus menandai pudarnya dominasi mereka di persepakbolaan Inggris -- Arsenal hingga kini belum pernah lagi menjuarai liga.
1 Februari 2005: Arsenal 2-4 Manchester United


Sebuah laga yang masuk daftar ini murni karena nilainya sebagai tontonan yang menghibur, bukan signifikansi atau tingkat kepentingan hasil akhirnya.

Dalam gim seru yang dihelat di Highbury ini, gol-gol Patrick Vieira dan Dennis Bergkamp yang mengapit torehan Ryan Giggs memberikan keunggulan 2-1 buat The Gunners pada babak pertama.

Comeback impresif ditampilkan United selepas turun minum. Cristiano Ronaldo menyuguhkan salah satu performa terbaik di awal karier bersama Iblis Merah dengan mengemas sepasang gol dalam tempo dua menit, tapi kartu merah Mikael Silvestre membuat laga kembali berjalan seimbang.

Walaupun demikian, United mampu memperlebar jarak dan memastikan kemenangan 4-2 melalui tendangan lob John O'Shea melewati Manuel Almunia.

Di akhir musim tak satu pun dari kedua klub yang finis di peringkat teratas. Musim tersebut adalah yang perdana dari kesuksesan beruntun Jose Mourinho mengarsiteki Chelsea ke tangga juara Premier League.

12 Mei 2005: Arsenal 0-0 Man Utd (Pen. 5-4)


Kendati selalu takluk di dua pertemuan liga melawan United, Arsenal berhak tertawa paling akhir di musim 2004/05 dengan mencaplok trofi Piala FA setelah menumbangkan sang rival bebuyutan lewat adu penalti.

Pertandingan sendiri secara mengejutkan berlangsung timpang dengan kubu Sir Alex Ferguson mendominasi total dan jauh lebih banyak mengkreasikan kans bersih, namun tak satu pun yang bisa dimaksimalkan menjadi gol, dan itu harus dibayar mahal.

Setelah skor 0-0 tak juga berubah sampai 120 menit, kegagalan Paul Scholes dalam penalty shoot-out menjadi penentu hadirnya trofi buat Arsenal, yang seluruh eksekutornya sukses menunaikan tugas.

Adu penalti di final ini juga merupakan kali pertama di Piala FA sejak 1912 dan kejayaan kesepuluh Arsenal menjuarai ajang tertua di dunia tersebut. Kesuksesan terasa semakin manis karena memastikan The Red Devils menyudahi musim tanpa gelar.
21 Januari 2007: Arsenal 2-1 Manchester United
Pertandingan di Emirates ini tampak bakal menjadi milik United setelah diving header Rooney membobol gawang tuan rumah di babak kedua terus bertahan sampai sepuluh menit terakhir.

Kontrol permainan pun dipegang kubu tamu dengan kerja sama Rooney, Henrik Larsson, dan Ronaldo acapkali merepotkan pertahanan Arsenal sementara lini belakang United sendiri sukar ditembus.

Namun, keputusan Wenger memasukkan Robin van Persie untuk membantu Emmanuel Adebayor dan Henry di garis depan terbukti tepat. Penyerang Belanda itu melesakkan gol penyama kedudukan tujuh menit jelang waktu normal habis.

Ketika United tampak sudah cukup puas dengan satu angka, crossing Emmanuel Eboue di periode injury time secara dramatis berhasil ditanduk Henry untuk mengubah skor menjadi 2-1! Gemuruh publik Emirates pun meledak menyambut kegemilangan The Gunners.

Hasil ini menghasilkan kemenangan ganda bagi Arsenal atas United pada 2006/07, namun Red Devils tetap mampu menjadi kampiun di akhir musim dan merengkuh titel liga perdana setelah empat tahun.

5 Mei 2009: Arsenal 1-3 Manchester United


United sukses mengakhiri impian Arsenal melangkah ke final Liga Champions 2008/09 pada malam yang masih disebut dengan 'Selasa Kelam' oleh sebagian Gooners ini.

Kemenangan pada leg pertama di Old Trafford -- meski tipis 1-0 -- membuat United menapaki laga sebagai favorit, tapi Arsenal tetap yakin bisa membalikkan defisit. Atmosfer positif pun amat terasa di Emirates jelang kick-off.

Namun optimisme itu hanya bertahan delapan menit. Terpelesetnya Kieran Gibbs membuat Park Ji-Sung dapat mencetak gol pembuka. Dua menit setelah itu tendangan bebas kencang Cristiano Ronaldo merobek jala Manuel Almunia secara virtual membunuh kans tuan rumah.

Sebuah counter-attack brilian yang kembali diselesaikan Ronaldo mengubah skor laga menjadi 3-0 dan 4-0 pada agregat. Satu-satunya poin negatif bagi United hanyalah diusirnya Darren Fletcher secara kontroversial setelah melanggar Cesc Fabregas di wilayah terlarang, yang berarti gelandang Skotlandia itu harus absen di final.

Di saat Robin van Persie sukses mencetak gol hiburan dari penalti tersebut, Emirates sudah dalam keadaan setengah kosong. United sendiri kemudian takluk 2-0 oleh Barcelona pada final di Roma.
28 Agustus 2011: Manchester United 8-2 Arsenal


Arsenal yang masih limbung setelah melego dua bintang andalan, Cesc Fabregas ke Barcelona serta Samir Nasri ke Manchester City, harus bertandang ke Old Trafford di pekan ketiga Liga Primer 2011/12.

Cedera dan suspensi kian memperparah kondisi tim, tapi mereka tetap berharap dapat membukukan hasil positif guna mendongkrak kepercayaan diri setelah sebelumnya seri kontra Newcastle dan keok oleh Liverpool.

Namun, yang terjadi amat jauh dari ekspektasi suporter The Gunners. Peragaan permainan ofensif nan cepat memberikan keunggulan 3-1 bagi tuan rumah di babak pertama, kans emas Arsenal dari sepakan penalti Van Persie pun mentah oleh penyelamatan De Gea.

Situasi buruk berganti menjadi bencana bagi Arsenal di paruh kedua. Wayne Roooney memastikan hat-trick-nya, Ashley Young mencetak gol keduanya dan gol keenam sudah digelontorkan United sebelum kartu merah Carl Jenkinson membuat lubang di lini belakang kian menganga.

Ogah memberi ampun, United menambah dua gol lagi di menit-menit akhir dan mengunci kemenangan dengan skor sensasional 8-2.

Dengan jendela transfer musim panas hanya tersisa beberapa hari lagi, hasil ini -- kekalahan terparah klub dalam 116 tahun --- membuat Wenger tak punya pilihan kecuali menarik pemain anyar. Ia akhirnya mendatangkan empat wajah baru dan mulai meretas jalur kebangkitan setelah mimpi buruk di awal musim.

Pastinya Arsenal sangat termotivasi menuntaskan dendam pada Minggu nanti, dan semoga saja kembali tersaji pertandingan klasik yang pantas dicantumkan dalam daftar ini.